x

The Bucket List: Nepal


Pergi ke Nepal bagaikan pergi naik haji-nya para traveler, setidaknya begitu kata fellow-travelers yang pernah saya ajak ngobrol. Melihat Everest–gunung tertinggi di dunia–dari dekat memang sudah masuk daftar things I should do before I die, sejak lama. Salah satu bucket list tertinggi, yang saya coba wujudkan di penghujung tahun 2017.

Awal rencana berangkat berdua dengan Dita, travel-mate saya saat Keliling Asia Tenggara sebelumnya, kemudian dua teman lagi ingin bergabung yaitu Fano dan Bimo. Somehow merasa lega karena ada teman laki-laki yang ikut dalam perjalanan menantang satu ini. Selain karena kami akan pergi mendaki beberapa hari, Nepal yang memiliki mayoritas penduduk orang India dikenal banyak catcalling. Negara ini juga termasuk negara berkembang sama seperti Indonesia, infrastruktur masih belum canggih dan kurang aman untuk perempuan berkelana disana. Walaupun begitu, sebetulnya sudah cukup banyak penduduk lokal yang bisa berbahasa inggris karena negara ini merupakan salah satu yang paling banyak didatangi oleh turis mancanegara.

Persiapan kami berempat bisa dibilang cukup lancar karena kami sama-sama excited untuk segera berangkat. Yaaaay!

Surabaya – Jakarta – Kuala Lumpur – Kathmandu

Menuju Kathmandu termasuk perjalanan panjang, kami harus transit di Jakarta dan Kuala Lumpur. Kami sudah di Jakarta sejak malam sebelumnya karena penerbangan kami paling pagi menggunakan Malindo Air. Penerbangan pagi sudah pasti melelahkan, kombinasi ngantuk dan lapar jadi satu. Sesampainya di Kuala Lumpur, kami harus pindah pesawat lagi. Tiba di Kathmandu sekitar pukul 12 siang waktu setempat. Suhu dingin langsung menusuk, karena di Nepal sedang musim gugur.

Visa On Arrival

Nepal adalah salah satu negara bebas Visa untuk pemegang paspor Indonesia. Bermodalkan paspor dan tiket pesawat kita bisa langsung berangkat kesini, sesampainya di Tribhuwan International Airport bisa langsung urus Visa On Arrival. Cukup mudah kok, hanya perlu siapkan pas foto dan $25 untuk stay di Nepal selama 15 hari, kalau mau stay lebih lama ada juga pilihan biaya yang lebih tinggi. Ohya untuk mata uang lebih aman bawa US dollar karena lebih mudah tukarnya disana, pengalaman cari Nepal Rupee susah juga sih di Surabaya.

First Thing First

Hal pertama yang langsung kami lakukan setelah selesai imigrasi dan klaim bagasi adalah cari Sim Card. Ada beberapa pilihan tapi menurut penduduk lokal NCell yang punya sinyal paling bagus, terutama untuk yang berencana mendaki di Pokhara.

Kedua, cari taksi untuk menuju ke area Thamel harganya hanya 7 dollar. Harus hati-hati dalam pesan taksi disini, masih sangat tradisional karena supir-supir terlihat berebut pelanggan dan sistemnya masih tanpa argo jadi harus kekeuh tawar-menawarnya. Baiknya tanya penduduk lokal dulu soal kisaran harga taksi ini.

Thamel, Kathmandu

Yang selalu terbayang di kepala tentang Nepal adalah suasana kotanya yang dihiasi bendera warna-warni seperti ini. Nah ini bisa ditemukan di area Thamel. Kebetulan memang kami pilih penginapan airbnb di area ini, juga karena memang area turis sehingga banyak yang bisa di explore dengan berjalan kaki. Cari makanan juga sangat mudah disini, banyak pilihan resto, kafe, kedai, minimarket, sampai penjual souvenir pun ada di sepanjang jalan.

Tidak banyak pilihan tempat menginap yang asik di Kathmandu, jadi harus pesan jauh-jauh hari supaya dapat tempat yang nyaman. Rekomendasi host airbnb di Kathmandu, bisa cek di link ini ya!

Places To Go in Kathmandu

  • Garden of Dreams. Bisa ditempuh berjalan kaki dari area Thamel, di taman ini perlu bayar tiket masuk. Enak untuk bersantai karena bisa tidur-tiduran dan disediakan kasur tipis yang bisa dipakai pengunjung.
  • Boudanath Stupa. Dari sekian banyak temple yang ada di Kathmandu, kami memilih kesini karena terlihat paling populer di internet. Kami bertemu banyak penduduk lokal yang beribadah disini.

Uniknya tempat ini dikelilingi toko cinderamata di lantai satu dan juga tempat makan mayoritas di lantai dua atau tiga, setelah lelah berkeliling temple bisa langsung makan siang sambil menikmati pemandangan dari lantai atas.

  • Patan Durbar Square. Another temple dengan suasana berbeda, yang ini terasa lebih kuno dan tradisional. Banyak area yang sedang di renovasi juga, kami pun kurang bisa explore lebih banyak tentang tempat ini.

Tidak terlalu banyak turis di area Patan Square ini jika dibandingkan dengan Boudanath Stupa, lebih banyak penduduk lokal yang sedang berkegiatan. Souvenir disini jauh lebih murah daripada di Thamel ataupun Boudanath. Jadi kalau mau belanja oleh-oleh murah disini saja.

Kathmandu sebagai ibukota negara sekaligus kota terbesar di Nepal ini bisa jadi alternatif destinasi. Jangan kaget kalau kota ini sangat berdebu dan jalanan chaos tanpa traffic light, memang rasanya bagaikan kembali ke Indonesia jaman tahun 90an silam tapi mungkin ini juga sedikit banyak dampak dari gempa yang sempat terjadi di Nepal beberapa tahun lalu. Terlepas dari semua itu, yang membuat negara ini menarik untuk dikunjungi adalah biaya hidupnya yang lebih murah dari Indonesia, baik dari segi makanan maupun barang disini terasa sekali budget-friendly. Bagi yang sudah ke Nepal, apa yang kamu suka dari negara ini?

Published December 1, 2017

Related
Babymoon – Svarga Resort

February 16, 2020

Staycation – Gaia Cosmo

October 26, 2019

Staycation – Plataran Bromo

September 22, 2019

Highway to Himalayas

December 7, 2017

Something is wrong.
Instagram token error.
Load More
>